DIPLOMAT TERPERCAYA, JAKARTA – Ketegangan geopolitik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel terus memicu kekhawatiran global. Di tengah eskalasi yang meningkat, sikap diplomasi Türkiye yang memilih menjadi “penengah” dinilai sebagai langkah strategis untuk meredam potensi konflik yang lebih luas.

Advokat sekaligus pemerhati hukum internasional, Syamsul Khair, S.H., mengungkapkan bahwa posisi Türkiye saat ini memiliki peran krusial dalam menjaga stabilitas keamanan internasional. 

Menurutnya, Türkiye secara cerdik memanfaatkan posisi tawarnya sebagai kekuatan regional sekaligus anggota aliansi pertahanan Barat.

Syamsul Khair menilai posisi Türkiye di bawah kepemimpinan Presiden Recep Tayyip Erdoğan sangat unik. Di satu sisi, Ankara merupakan bagian penting dari NATO, namun di sisi lain tetap mampu menjaga komunikasi politik dengan negara-negara di kawasan Timur Tengah, termasuk Iran.

“Türkiye berada pada posisi yang cukup unik. Di satu sisi merupakan bagian dari aliansi Barat, namun di sisi lain tetap berusaha menjaga stabilitas kawasan melalui diplomasi dan dialog,” ujar Syamsul Khair kepada Media Diplomat Terpercaya.

Pendekatan ini, menurut Khair, merupakan langkah penting agar gesekan militer tidak berubah menjadi perang regional terbuka yang melibatkan banyak negara.

Dalam tinjauan hukumnya, Syamsul Khair menekankan bahwa penggunaan kekuatan militer antarnegara harus selalu merujuk pada norma-norma yang diatur dalam Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Ia mengingatkan bahwa serangan militer tanpa dasar hukum internasional yang jelas dapat memicu ketidakpastian global.

“Legitimasi hukum internasional harus menjadi rujukan utama. Setiap tindakan militer harus mempertimbangkan dampaknya terhadap stabilitas global, bukan sekadar kepentingan kekuatan tertentu,” jelasnya.

Ia pun memuji langkah Türkiye yang terus mendorong ruang dialog bagi pihak-pihak yang bertikai. Menurutnya, strategi menghindari keterlibatan militer langsung adalah bentuk diplomasi yang sangat realistis.

Lebih lanjut, Syamsul Khair memaparkan dampak jika ketegangan ini gagal diredam. Ia menyoroti potensi gangguan pada jalur perdagangan energi dunia, khususnya di Selat Hormuz yang menjadi urat nadi distribusi minyak global.

Jika eskalasi berlanjut, krisis energi dunia diprediksi tidak akan terhindarkan. Dalam situasi inilah peran Türkiye sebagai mediator dianggap sangat vital.

“Stabilitas Timur Tengah bukan hanya kepentingan kawasan, tetapi juga kepentingan dunia. Oleh karena itu, negara-negara seperti Türkiye yang mendorong diplomasi memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan geopolitik dan perdamaian internasional,” pungkasnya.