DIPLOMAT TERPERCAYA, TEHERAN – Muncul klaim mengenai penunjukan pemimpin agama baru Iran menyusul kabar wafatnya Ayatollah Ali Khamenei. Mojtaba Khamenei, putra dari sang pemimpin tertinggi, disebut-sebut telah dipilih sebagai penerus kepemimpinan Iran.

Klaim ini pertama kali mencuat dari pernyataan Huseyin Ali Eshkevari, seorang ulama dan tokoh Iran. Ia menyatakan bahwa kepemimpinan agama di negara tersebut akan dilanjutkan oleh Mojtaba Khamenei.

Meski demikian, hingga berita ini diturunkan, belum ada pengumuman resmi dari pemerintah Iran maupun otoritas terkait di Teheran mengenai siapa yang secara sah menjabat sebagai Pemimpin Tertinggi (Supreme Leader) yang baru.

Dalam sistem politik Republik Islam Iran, pemilihan pemimpin tertinggi merupakan wewenang penuh Assembly of Experts atau Majelis Pakar. Lembaga ini terdiri dari sekitar 88 ulama senior yang bertugas memilih, mengawasi, dan jika perlu, memberhentikan pemimpin tertinggi.

Laporan media menyebutkan bahwa proses pemilihan kemungkinan dilakukan melalui pertemuan khusus para anggota Majelis Pakar. Mengingat situasi keamanan, muncul spekulasi bahwa pertemuan tersebut bahkan dapat dilakukan secara daring.

Isu terpilihnya Mojtaba Khamenei masih memicu perdebatan panas di kalangan analis internasional. Kelompok oposisi Iran menduga adanya tekanan dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dalam mempercepat suksesi ini.

Di sisi lain, faksi konservatif di Iran memang telah lama mendorong agar Mojtaba menjadi penerus ayahnya guna menjaga stabilitas dan garis kebijakan politik negara yang sudah ada.

Mojtaba Khamenei lahir pada 7 September 1969 dan telah menerima pendidikan agama sejak dini di berbagai madrasah terkemuka di Iran. Di masa mudanya, ia diketahui sempat terjun dalam Perang Iran–Irak.

Meski selama ini tidak memegang jabatan resmi di struktur pemerintahan, Mojtaba dikenal sebagai sosok yang sangat berpengaruh di lingkaran dalam kekuasaan selama masa kepemimpinan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei.