DIPLOMAT TERPERCAYA, TEHERAN – Tragedi kemanusiaan yang mengguncang dunia internasional kini memasuki babak krusial. Para pakar hak asasi manusia dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) secara resmi mendesak dilakukannya investigasi independen dan menyeluruh pascaserangan udara yang menghantam sebuah sekolah dasar putri di Iran, yang menelan ratusan korban jiwa, sebagian besar merupakan anak-anak.

Serangan yang terjadi pada 28 Februari 2026 di kota Minab, Provinsi Hormozgan, tersebut tercatat sebagai salah satu insiden paling mematikan yang menargetkan fasilitas pendidikan dalam konflik yang melibatkan Iran belakangan ini. Laporan awal mengindikasikan sekitar 160 hingga 180 orang tewas saat kegiatan belajar-mengajar sedang berlangsung di fasilitas tersebut.

Para ahli HAM PBB menegaskan bahwa sekolah merupakan objek sipil yang dilindungi sepenuhnya oleh hukum humaniter internasional. Oleh karena itu, serangan terhadap fasilitas pendidikan dapat dikategorikan sebagai pelanggaran serius jika terbukti dilakukan secara sengaja atau akibat kelalaian dalam melindungi warga sipil.

“Serangan terhadap fasilitas pendidikan dan anak-anak merupakan tindakan yang sangat mengkhawatirkan dan harus segera diselidiki secara independen,” demikian pernyataan resmi para pakar HAM PBB. 

Mereka menekankan bahwa penyelidikan ini sangat krusial untuk mengungkap fakta di lapangan, menentukan siapa pihak yang bertanggung jawab, serta mengidentifikasi apakah telah terjadi pelanggaran berat terhadap aturan hukum perang.

Tragedi ini memicu gelombang kecaman luas dari berbagai komunitas internasional. Besarnya jumlah korban anak-anak dalam peristiwa ini menempatkan insiden di kota Minab tersebut sebagai perhatian utama bagi organisasi-organisasi perlindungan anak dunia. 

Desakan PBB untuk melakukan investigasi diharapkan dapat segera memberikan kejelasan mengenai kronologi serangan, sekaligus membuka jalan bagi langkah-langkah hukum internasional untuk memastikan adanya akuntabilitas terhadap pihak yang terbukti melanggar ketentuan kemanusiaan global.