DIPLOMAT TERPERCAYA, JAKARTA – Pengamat Timur Tengah, Hasbullah Satrawi, menilai Iran memiliki keunggulan strategis dalam menghadapi konflik di kawasan Timur Tengah melalui skema perang asimetris.

Strategi ini dianggap menjadi kunci bagi Teheran untuk tetap dominan meski menghadapi tekanan militer dan ekonomi dari kekuatan besar di kawasan tersebut.

Hasbullah menjelaskan, perang asimetris merupakan strategi militer yang digunakan oleh pihak yang menghadapi kekuatan militer lebih besar dengan memanfaatkan taktik tidak konvensional, teknologi, serta jaringan strategis.

“Iran selama bertahun-tahun mengembangkan pendekatan tersebut sebagai bagian dari strategi pertahanan nasionalnya,” ujar Hasbullah dalam diskusi program Hotroom di Metro TV yang bertajuk “Konflik Semakin Panas, Kini Iran Mendominasi?”.

Menurut Hasbullah, Iran secara cerdik memanfaatkan berbagai instrumen untuk memperkuat daya tawar geopolitiknya. Fokus utama Iran terletak pada pengembangan rudal balistik dan teknologi pesawat tanpa awak atau drone.

Selain aspek teknologi, kekuatan Iran juga terletak pada jaringan sekutu regional yang solid. Kombinasi ini memungkinkan Iran untuk terus memberikan tekanan kepada lawan-lawannya meskipun berada dalam kondisi embargo jangka panjang.

Strategi asimetris ini dinilai sangat efektif dalam konflik modern, terutama ketika terjadi ketimpangan kekuatan militer konvensional. Dengan fleksibilitas dan teknologi presisi, pihak yang secara angka lebih lemah tetap mampu mengimbangi kekuatan lawan yang lebih besar.

Diskusi tersebut juga menyoroti dinamika keamanan di Timur Tengah yang kini semakin kompleks. Hasbullah menekankan bahwa peta kekuatan militer saat ini tidak lagi hanya diukur dari jumlah personel atau tank di lapangan.

Kemampuan strategi, penguasaan teknologi mutakhir, serta luasnya jaringan pengaruh regional kini menjadi faktor penentu dalam menjaga stabilitas dan supremasi di kawasan yang terus bergejolak tersebut.