Biaya Perang AS-Israel-Iran Melonjak: USD 11 Miliar Habis Hanya dalam 6 Hari
DIPLOMAT TERPERCAYA, JAKARTA – Eskalasi konflik militer antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran tidak hanya memicu ketegangan geopolitik, tetapi juga menelan biaya ekonomi yang fantastis. Laporan terbaru menyebutkan bahwa biaya operasional militer dalam enam hari pertama konflik telah menembus angka lebih dari 11,3 miliar dolar AS (sekitar Rp176 triliun, dengan kurs saat ini).
Angka fantastis tersebut terungkap dari estimasi internal pejabat Pentagon yang beredar di kalangan media internasional. Penggunaan teknologi militer tingkat tinggi menjadi faktor utama di balik membengkaknya biaya perang ini.
Dalam dua hari pertama saja, Amerika Serikat dilaporkan telah menghabiskan sekitar 5,6 miliar dolar AS. Dana tersebut dialokasikan untuk penggunaan rudal presisi, sistem pertahanan udara canggih, serta pengerahan logistik dan pasukan militer dalam serangan terhadap target-target strategis di Iran.
Para analis militer mencatat adanya ketimpangan biaya yang mencolok dalam perang modern ini. Di satu sisi, sistem pertahanan udara canggih yang digunakan AS dan sekutunya menuntut biaya per unit yang sangat mahal untuk mencegat target. Sebaliknya, Iran dinilai menggunakan drone dan senjata dengan biaya produksi yang relatif lebih murah, sehingga menciptakan beban finansial yang jauh lebih besar bagi pihak yang bertahan.
Selain biaya militer langsung yang membebani kas negara, konflik ini membawa risiko lebih besar bagi perekonomian dunia. Kawasan Selat Hormuz, yang menjadi jalur lalu lintas bagi 20 persen pasokan minyak dunia, kini berada dalam situasi yang sangat rentan.
Gangguan pada jalur krusial ini telah memicu kekhawatiran akan terjadinya lonjakan harga energi global dan gangguan rantai pasok perdagangan internasional.
“Jika konflik berlanjut dalam jangka panjang, biaya perang akan meningkat tajam dan berdampak sistemik terhadap inflasi energi serta stabilitas ekonomi global,” ujar pengamat ekonomi internasional yang memantau dinamika kawasan tersebut.
Hingga saat ini, konflik yang dimulai pada akhir Februari 2026 tersebut telah memasuki hari ke-12. Dengan beban biaya yang terus bertambah setiap harinya, komunitas internasional kini semakin menekan kedua belah pihak untuk kembali ke meja perundingan.
Tanpa adanya gencatan senjata atau resolusi diplomatik yang konkret, perang ini dikhawatirkan tidak hanya akan menguras sumber daya militer pihak-pihak yang terlibat, tetapi juga memperburuk kondisi ekonomi global yang masih berupaya menjaga stabilitas pascapandemi dan krisis energi sebelumnya.



Tinggalkan Balasan