Dukung Seruan Erdogan, Advokat Kalsel: Membedakan Syiah dan Sunni Melemahkan Umat
DIPLOMAT TERPERCAYA, JAKARTA – Advokat sekaligus pengamat hukum internasional asal Kalimantan Selatan, Syamsul Khair, S.H., memberikan apresiasi tinggi terhadap langkah diplomasi Presiden Türkiye, Recep Tayyip Erdoğan. Seruan Erdoğan yang mengajak dunia Islam menanggalkan ego sektarian antara Syiah dan Sunni dinilai sebagai oase di tengah gersangnya perdamaian di kawasan Timur Tengah.
Syamsul Khair menegaskan bahwa narasi “Satu Islam” yang digaungkan di Ankara merupakan instrumen hukum dan moral yang kuat untuk menghentikan eksploitasi isu agama demi kepentingan politik kekuasaan.
Dalam analisisnya, Syamsul Khair melihat bahwa selama ini label Syiah dan Sunni sering kali dijadikan komoditas untuk memicu proksi militer di kawasan Teluk. Hal ini menurutnya sangat mencederai prinsip hukum humaniter dan hak asasi manusia. “Islam adalah agama yang mengedepankan persaudaraan. Jika umat terus dibenturkan pada identitas Syiah atau Sunni, maka kekuatan kolektif kita akan lumpuh,” ungkap Syamsul Khair.
Ia menambahkan, pernyataan Erdoğan yang menyebut tokoh-tokoh besar seperti Ali bin Abi Talib dan Umar bin Khattab sebagai warisan bersama adalah kunci untuk membuka pintu rekonsiliasi yang selama ini tertutup rapat oleh sentimen kelompok.
Sebagai praktisi hukum, Khair menyoroti bahwa tanpa adanya persatuan internal umat Islam, penyelesaian sengketa internasional di kawasan tersebut akan selalu menemui jalan buntu. Persatuan adalah fondasi bagi terciptanya stabilitas keamanan global. “Seruan ini sangat relevan. Dunia saat ini sedang terluka oleh berbagai konflik. Umat Islam harus tampil sebagai pemberi solusi melalui persatuan, bukan justru menjadi bagian dari masalah karena perpecahan internal,” tambahnya.
Menutup pernyataannya, Syamsul Khair berharap agar para pemimpin negara-negara Muslim, termasuk Indonesia, dapat menyambut seruan ini dengan aksi nyata di meja diplomasi internasional.
Solidaritas yang kokoh diyakini akan mampu meminimalisir intervensi asing yang sering memanfaatkan celah perpecahan mazhab untuk menguasai sumber daya dan kedaulatan negara-negara di Timur Tengah. Syamsul optimis, dengan semangat persaudaraan yang tulus, perdamaian abadi bukan lagi sekadar mimpi bagi dunia Islam.(*)



Tinggalkan Balasan