OPINI: Nasionalisme Iran dan Ketahanan Negara: Ketika Ideologi Menggerakkan Rakyat
Oleh: Syamsul Khair (Advokat Kepabeanan & Penasihat Hukum)
Fenomena membludaknya pendaftaran relawan ke milisi Basij, pasukan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), hingga militer reguler di Iran saat ini mengungkap sebuah realitas fundamental dalam percaturan politik global. Kekuatan nasionalisme dan ideologi terbukti masih menjadi pilar utama dalam bangunan ketahanan sebuah negara.
Dalam diskursus militer modern, kekuatan negara sering kali hanya diukur melalui variabel kuantitatif: kecanggihan teknologi alutsista, kekuatan produk domestik bruto (PDB), atau luasnya aliansi geopolitik. Namun, catatan sejarah secara konsisten mengingatkan kita bahwa faktor penentu yang paling resilien adalah solidaritas nasional dan kedalaman dukungan rakyat terhadap eksistensi negaranya.
Iran merupakan studi kasus menarik mengenai bagaimana sebuah negara mengintegrasikan militer formal dengan partisipasi aktif masyarakat. Sejak era revolusi, konsep pertahanan Teheran tidak lagi bersifat eksklusif di tangan tentara profesional. Melalui organisasi seperti Basij, Iran telah membangun jaringan akar rumput yang luas, menjadikan pertahanan negara sebagai tanggung jawab kolektif.
Meningkatnya pendaftaran relawan di tengah ancaman eksternal saat ini mencerminkan bangkitnya kesadaran sosial. Dalam perspektif hubungan internasional, hal ini dikenal sebagai societal resilience (ketahanan kemasyarakatan). Negara dengan kohesi sosial yang tinggi memiliki daya tahan lebih kuat terhadap tekanan geopolitik karena rakyatnya merasa memiliki (sense of ownership) terhadap ideologi dan kedaulatan negara.
Jika kita meninjau dari sudut pandang hukum internasional, hak sebuah negara untuk mempertahankan diri merupakan prinsip universal yang absolut. Hal ini secara tegas diatur dalam Pasal 51 Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yang menjamin hak inheren setiap negara untuk melakukan pembelaan diri (self-defense) terhadap serangan bersenjata.
Namun, efektivitas hukum tersebut di lapangan sangat bergantung pada legitimasi politik domestik. Tanpa dukungan rakyat yang solid, instrumen militer secanggih apa pun sering kali gagal mempertahankan stabilitas negara dalam jangka panjang. Mobilisasi massa di Iran saat ini menunjukkan bahwa ideologi masih menjadi motor penggerak politik yang sangat efektif.
Pelajaran berharga dari dinamika di Iran adalah bahwa kekuatan sejati sebuah bangsa tidak melulu terletak pada moncong senjata atau rudal balistik. Kekuatan itu ada pada kesadaran rakyatnya untuk menjaga identitas nasional dan kedaulatan mereka. Nasionalisme yang lahir dari sejarah panjang dan identitas kolektif adalah energi sosial yang tak tertandingi dalam menghadapi badai geopolitik global.



Tinggalkan Balasan