DIPLOMAT TERPERCAYA, JAKARTA – Krisis kemanusiaan hebat tengah melanda Iran menyusul gelombang serangan udara intensif yang menghantam puluhan ribu titik di berbagai wilayah negara tersebut. Organisasi kemanusiaan Iranian Red Crescent Society melaporkan bahwa tim penyelamat kini bekerja tanpa henti di bawah puing-puing bangunan guna mencari korban yang masih tertimbun.

Presiden Iranian Red Crescent Society, Pirhossein Kolivand, mengungkapkan skala kerusakan yang mencengangkan. Lebih dari 80.000 lokasi sipil dilaporkan terdampak atau hancur selama beberapa pekan konflik berlangsung. Cakupan kerusakan ini meliputi permukiman warga, pusat perbelanjaan, institusi pendidikan, hingga fasilitas kesehatan vital.

Meskipun laporan militer menyebutkan bahwa operasi tersebut menargetkan fasilitas strategis, realitas di lapangan menunjukkan kehancuran infrastruktur publik yang masif. Laporan dari The Guardian dan Reuters menyoroti banyaknya kawasan hunian yang kini rata dengan tanah, memicu gelombang pengungsian besar-besaran dari kota-kota utama Iran.

Di berbagai kota, relawan dan tim penyelamat terlihat bahu-membahu melakukan evakuasi. Dengan bantuan alat berat hingga peralatan sederhana, mereka menyisir reruntuhan bangunan untuk menemukan penyintas maupun jenazah warga sipil.

Data kemanusiaan yang dihimpun oleh konsorsium hak asasi manusia memberikan gambaran kelam mengenai dampak konflik ini terhadap warga sipil. Diperkirakan lebih dari 1.400 warga sipil telah gugur, termasuk ratusan anak-anak, sejak eskalasi militer meningkat pada akhir Februari 2026.

Selain kehilangan nyawa, ratusan ribu warga Iran kini terpaksa meninggalkan rumah mereka. Mereka mengungsi ke wilayah yang dianggap lebih aman demi menghindari risiko serangan udara susulan yang terus menghantui pusat-pusat populasi.

Hingga saat ini, situasi kemanusiaan di banyak wilayah Iran masih berada pada titik kritis. Keterbatasan akses terhadap fasilitas medis yang rusak serta ancaman kekurangan logistik memperburuk keadaan bagi para penyintas. Komunitas internasional kini mulai menyuarakan keprihatinan mendalam atas skala kehancuran sipil yang terus bertambah di tengah dinamika perang yang kian tak menentu.