Dinamika Kebijakan Tarif AS, Pemerhati Ekonomi Soroti Peluang Perkuat Pondasi Ekonomi Nasional
DIPLOMAT TERPERCAYA, BANJARMASIN – Dinamika kebijakan tarif perdagangan Amerika Serikat (AS) yang cenderung proteksionis terus menjadi sorotan dalam diskursus ekonomi global. Kebijakan tersebut dinilai masih menyisakan dampak struktural bagi negara-negara mitra dagang, termasuk Indonesia.
Pemerhati ekonomi sekaligus Advokat Pajak Bidang Bea Cukai, Syamsul Khair, S.H., menilai bahwa kebijakan tarif tersebut harus dibaca secara objektif sebagai alarm bagi struktur ekonomi dalam negeri.
Menurutnya, hubungan dagang antara Indonesia dan Amerika Serikat saat ini masih menunjukkan karakter yang asimetris atau belum sepenuhnya seimbang.
“Secara struktur ekonomi, hubungan dagang Indonesia dan Amerika Serikat masih menunjukkan karakter asimetris. Skala ekonomi dan daya tekan kebijakan tentu berbeda,” ujar Syamsul Khair dalam keterangannya, Jumat (27/2/2026).
Meski berada dalam posisi yang menantang, Syamsul Khair menekankan bahwa Indonesia memiliki nilai strategis yang signifikan di kawasan Indo-Pasifik, terutama terkait sumber daya alam.
Tekanan tarif dari negara maju, menurutnya, seharusnya menjadi momentum bagi pemerintah untuk memperkuat fondasi ekonomi nasional melalui program hilirisasi dan reformasi kepabeanan.
“Jika Indonesia tetap bertumpu pada ekspor komoditas mentah, maka posisi tawar akan selalu lemah. Namun, bila negara konsisten memperkuat hilirisasi industri serta kepastian hukum bea cukai, maka tekanan eksternal dapat berubah menjadi sinergi strategis,” tuturnya.
Selain hilirisasi, diversifikasi pasar ekspor juga dinilai menjadi kunci agar Indonesia tidak selalu terdampak oleh kebijakan unilateral satu negara. Khair menyoroti pentingnya diplomasi ekonomi yang aktif serta stabilitas regulasi domestik.
Sebagai ekonomi terbesar di ASEAN, Indonesia sebenarnya memiliki daya tawar tinggi melalui pasar domestik yang kuat. Namun, nilai tersebut harus dibarengi dengan ketahanan struktural yang mumpuni.
“Sinergi atau asimetris sangat bergantung pada kesiapan internal kita. Jika reformasi sistemik berjalan konsisten, Indonesia bisa mengubah tekanan tarif menjadi peluang penguatan ekonomi nasional,” pungkasnya.(*)




Tinggalkan Balasan