DK PBB Sahkan Resolusi, Desak Iran Hentikan Serangan ke Negara-negara Teluk
DIPLOMAT TERPERCAYA, NEW YORK – Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) resmi mengesahkan resolusi yang menyerukan penghentian segera serangan Iran terhadap negara-negara di kawasan Teluk. Langkah ini diambil di tengah meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah yang semakin mengkhawatirkan stabilitas global.
Resolusi tersebut diadopsi setelah melalui pemungutan suara di markas besar PBB, New York. Dalam prosesnya, 13 negara anggota Dewan Keamanan memberikan dukungan, sementara China dan Rusia memilih untuk abstain.
Resolusi ini diajukan oleh Bahrain, yang mewakili negara-negara anggota Gulf Cooperation Council (GCC) serta Yordania. Dokumen tersebut secara tegas mengecam serangan rudal Iran terhadap sejumlah negara Teluk yang dituduh memfasilitasi operasional militer Amerika Serikat dan Israel.
Ketegangan ini bermula dari operasi militer yang dilancarkan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Sebagai respons, Iran melancarkan serangan balasan ke berbagai titik di negara Teluk yang dinilai memberikan akses pangkalan militer bagi pihak lawan.
Di sisi lain, pemerintah Iran menolak tuduhan tersebut. Teheran menegaskan bahwa serangan yang mereka terima dari AS dan Israel merupakan pelanggaran nyata terhadap Piagam PBB.
Iran berargumen bahwa aksi balasan yang mereka lakukan adalah bentuk hak mempertahankan diri (self-defense) yang sah sesuai dengan Pasal 51 Piagam PBB. Isu mengenai program nuklir dan pengembangan rudal balistik Iran juga turut menjadi sorotan dalam sidang DK PBB sebelumnya, di mana pihak Washington menilai hal tersebut sebagai ancaman keamanan internasional yang serius.
Selain dukungan dari 13 anggota Dewan Keamanan, resolusi ini disebut-sebut mendapat sokongan dari lebih dari 130 negara anggota PBB secara luas.
Langkah ini diharapkan menjadi pintu masuk untuk meredakan ketegangan di kawasan Teluk yang sangat krusial bagi perdagangan internasional dan keamanan energi dunia. PBB kini tengah menekan seluruh pihak untuk menahan diri dan kembali menempuh jalur diplomasi guna mencegah meluasnya konflik yang dapat berimplikasi pada stabilitas global.



Tinggalkan Balasan